[ARTICLE] Tahukah kamu: Apa yang Terjadi di Otak Saat Kita Belajar Bahasa?
Halo Binusian! Suka belajar bahasa asing? Biasanya yah, belajar bahasa sering dianggap hanya soal menghafal kosakata dan aturan tata bahasa. Padahal, di dalam otak kita ada “orkestra” rumit yang bekerja sama — dari mengenali bunyi, menghubungkan makna, sampai menyimpan pola untuk jangka panjang. Menariknya, semua ini melibatkan banyak area otak dan bahkan dipengaruhi aktivitas sehari-hari seperti tidur atau interaksi sosial.
Coba deh yuk kita lihat prosesnya lebih dekat.

Bahasa di otak: bukan cuma Broca dan Wernicke
Dulu, orang percaya kalau otak hanya memiliki dua bagian yang mengurus bahasa, yaitu Broca (untuk bicara) dan Wernicke (untuk memahami). Tetapi riset terbaru menunjukkan bahwa bahasa sebenarnya dikelola oleh jaringan area otak yang saling terhubung. Ada yang bertugas memproses bunyi, ada yang fokus pada makna, dan ada juga yang merancang struktur kalimat. Jadi, kemampuan bahasa kita lahir dari kerja tim, bukan satu pusat saja (Friederici, 2011)
Dua jalur bahasa: “apa” dan “bagaimana”
Menurut model dual-stream, otak punya dua jalur utama untuk bahasa:
- Jalur ventral: menghubungkan bunyi dengan arti (misalnya, ketika mendengar kata “rumah”, otak langsung tahu maknanya).
- Jalur dorsal: menghubungkan bunyi dengan cara mengucapkannya (misalnya, menirukan ucapan “bonjour”).
Inilah sebabnya ada orang yang bisa paham arti kata namun kesulitan mengucapkannya, atau sebaliknya (Hickok & Poeppel, 2007).
Kosakata vs tata bahasa: dua memori berbeda
Menariknya, otak menyimpan kosakata dan tata bahasa dengan cara berbeda:
- Kosakata tersimpan di memori deklaratif (seperti mengingat fakta).
- Tata bahasa lebih ke memori prosedural (seperti mengendarai sepeda, otomatis setelah sering latihan).
Karena itu, menghafal kata baru cocok dengan metode pengulangan terjadwal (spaced repetition), sedangkan menguasai tata bahasa lebih efektif lewat latihan produksi berulang atau berbicara berulang (Ullman, 2001).
Belajar lewat interaksi sosial
Bayi belajar bahasa dengan cara yang luar biasa sebagaimana mereka menghitung pola bunyi (statistical learning) dan lebih cepat menyerap bahasa ketika berinteraksi dengan orang lain. Inilah yang disebut social gating — interaksi sosial membuat otak lebih “terbuka” untuk belajar bahasa (Kuhl, 2004).
Tidur = kunci menguatkan bahasa
Setelah belajar, otak kita bekerja lagi saat tidur. Informasi yang baru dipelajari diperkuat dan dipindahkan agar lebih tahan lama di ingatan. Baik kosakata maupun keterampilan tata bahasa terbukti lebih kuat setelah tidur cukup (Diekelmann & Born, 2010).
Usia mempengaruhi, tapi tidak menentukan
Nah, ada kok “masa peka” dalam belajar bahasa, terutama untuk pengucapan dan tata bahasa tertentu. Anak-anak memang lebih cepat menyerap, tapi orang dewasa tetap bisa mencapai tingkat tinggi dengan metode yang tepat, misalnya lewat imersi atau latihan intensif (Hartshorne et al., 2018). Intinya; JANGAN MENYERAH!
Apa artinya untuk kita dan Beelingua?
Dari penemuan di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa hal yang dapat membantu kita dalam proses pembelajaran bahasa baru. Hal-hal tersebut antara lain:
- Tidak hanya membaca, kita juga harus mencoba mempraktikkan bahasa baru dengan berbicara bersama orang lain.
- Kosakata tidak sama dengan tata bahasa sehingga kita harus menggunakan cara belajar yang berbeda untuk keduanya. Kosakata dapat dihafal mati namun tata bahasa tidak sehingga lebih baik melatih pengucapan tata bahasa yang baik daripada menghafal setiap formasi kalimat.
- Tidur yang cukup dapat membantu otak konsolidasi sehingga pembelajaran bahasa lebih efektif.
- Usia bukan halangan dalam mempelajari bahasa baru. Sampai kapanpun kita memiliki pilihan untuk belajar.
Bagaimana? Berminat belajar bahasa asing? Yuk kita segera akses dan kerjakan Beelingua!
Referensi
Friederici, A. D. (2011). The brain basis of language processing: From structure to function. [Physiological Reviews](https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22013214/).
Hickok, G., & Poeppel, D. (2007). The cortical organization of speech processing. [Nature Reviews Neuroscience](https://www.nature.com/articles/nrn2113).
Ullman, M. T. (2001). The declarative/procedural model of lexicon and grammar. [Cognitive Neuroscience](https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11291183/).
Kuhl, P. K. (2004). Early language acquisition: cracking the speech code. [Nature Reviews Neuroscience](https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15496861/).
Diekelmann, S., & Born, J. (2010). The memory function of sleep. [Nature Reviews Neuroscience](https://www.nature.com/articles/nrn2762).
Hartshorne, J. K., Tenenbaum, J., & Pinker, S. (2018). A critical period for second language acquisition. [Cognition](https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29729947/).
Written on 13/9/2025 by Novelina (Beelingua Mentor)
Comments :